Minggu, 27 Juli 2014

Selamat Idul Fitri 1435 H

PusatInvestor.Com
Kami Segenap Manajemen Pusat Investor Mengucapkan :
"SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1435 H"
Mohon Maaf Lahir Dan Batin.

Manajemen Libur Panjang mulai dari tanggal 26 Juli-10 Agustus 2014.

Selasa, 01 Juli 2014

RENEGOSIASI GAS TANGGUH: Dari Cerita Sriwijaya dan Majapahit Hingga Putri Cempa dan Laksamana Cheng Ho Luluhkan CNOOC

PusatInvestor.Com

Selasa, 01 Juli 2014,
Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik mengungkapkan pihaknya menggunakan cerita Putri Campa, istri Prabu Brawijaya V, yang merupakan anak angkat dari keturunan Tionghoa sebagai strategi untuk meluluhkan China Offshore Oil Company (CNOOC) dalam proses renegosiasi kontrak gas Tangguh.

Menurutnya, sebelum bertolak ke Beijing, China, Wacik mencapat kabar bila bos besar CNOOC Wang Yilin berkepribadian kaku dan tegas, sehingga ada ketakutan renegosiasi pasti gagal.

“Namun, ketika bertemu dengannya , saya kemudian menceritakan bagaimana kejayaan kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit yang sangat bersahabat dengan China. Saya lalu ceritakan bagaimana utusan China Putri Campa dan Laksamana Cheng Ho masuk ke Indonesia pada abad 14. Lalu saya bilang, karena Indonesia dan China telah bersahabat sejak lama, lalu seharusnya CNOOC mau merenegosiasi kontrak tersebut,” ujarnya dalam konferensi pers di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Selasa, (1/7/2014).

Setelah cerita-cerita masa lalu tersebut, Wang Yilin akhirnya luluh dan mau merenegosiasi kontrak jual beli gas Tangguh, yakni perubahan formula penghitungan dan adanya penyesuaian harga dengan kenaikan Japan Crude Cocktail (JCC).
Wacik mengungkapkan pihaknya optimistis renegosiasi kontrak dengan CNOOC akan berjalan sukses, mengingat sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah bertemu dengan Presiden China Xi Ping yang menyatakan kemauannya untuk merenegosiasi kontrak jual beli gas Tangguh.

Setelah melalui proses negosiasi yang alot, akhirnyatim perunding Pemerintah Indonesia berhasil menaikkan harga jual gas Tangguh menjadi US$8 per juta metrik British thermal unit dari sebelumnya US$2,7 per MMBtu setelah pada 2006 dinegosiasi untuk naik menjadi US$3,3 per MMBtu.


Editor : Nurbaiti

Selasa, 08 April 2014

ADA TIGA CARA MENDAPATKAN MODAL

ADA TIGA CARA MENDAPATKAN MODAL
Jakarta, 8 April 2014, 11.00. Pusat Investor.

Mungkin cara ini sudah sering terdengar ditelinga kita, namun mungkin cara ini tidak
terpikirkan untuk kita jalankan, padahal pilihan-pilhan mendapatkan modal bisa dipilih
berdasarkan keuntungan, kemudahan yang bisa dirasakan para pelaku usaha.
Buku-buku yang membahas tentang strategi mendapatkan modal sudah banyak beredar di toko-toko buku, baik yang ditulis oleh para akademisi maupun yang ditulis oleh praktisi atau pelaku usaha yang telah sukses.

Dalam tulisan kali ini kita akan memberikan garis-garis pokoknya saja, pembaca yang sering surfing di dunia maya tidak bingung harus mencari potongan-potongan tulisan.

Baiklah, kita paparkan Cara mendapatkan Modal untuk Usaha.

1. JUAL SAHAM.
Cara ini hanya bisa dilakukan oleh Perusahaan dengan bentuk Perseroan Terbatas (PT), kenapa? karena PT adalah Badan Usaha yang sudah memisahkan secara tegas antara Aset Pribadi. Para Pemegang Saham dan Aset Perusahaan,Badan Usaha ini memberikan kepastian bagi para Pihak, Perusahaan yang sudah memiliki kinerja keuangan yang baik, dan telah diberi izin oleh Lembaga yang berwenang untuk mencatatkan/melisting sahamnya dibursa boleh menawarkan sahamnya kepada Publik. Perusahaan berkewajiban membagi keuntungan/deviden kepada para pemegang saham atau Investor. Pembagian Deviden biasanya ditetapkan pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Cara ini bisa anda ambil setelah memenuhi syarat-syarat dan anda segera membutuhkan Modal Investasi dan Modal Kerja serta untuk Membayar Pinjaman berbunga tinggi dan dalam jumlah besar.

2. JUAL ASET
cara ini bisa anda lakukan bilamana dalam audit laporan keuangan, audit kinerja anda menemukan ada aset-aset yang membutuhkan biaya pemeliharaan besar namun aset tersebut  memberikan income kecil atau tidak sama sekali, biaya pemeliharaan ini dari tahun-ketahun makin membesar maka segeralah untuk dilelang. Anda harus jeli melihat aset-aset yang dimiliki mana yang memberikan income dan mana yang tidak memberikan income sama sekali.
misalnya Aset Mobil kendaraan operasional yang sudah berumur pakai lebih lima tahun
biasanya biaya perawatannya lebih mahal dibanding jika anda memakai cara sewa, dengan
menjual mobil tersebut akan memberikan aliran dana segar. cara lain anda segera menjual
stok barang yang menumpuk digudang, menjual dengan harga pokok atau dibawah harga pokok, penjualan dengan harga murah tersebut segera dituntaskan untuk mendapatkan aliran dana dan membuat cashflow lebih positif, mungkin tumpukan stok barang yang banyak dan telah berumur lebih 6 bulan atau 1 tahun membutuhkan biaya pemeliharaan, security, asuransi,dan biaya-biaya lain. Cara ini bisa anda ambil bila anda segera membutuhkan Modal Kerja dan dalam jumlah yang masih bisa dicover oleh penjualan aset.


3. PINJAMAN
Cara ketiga ini bisa anda ambil jika anda membutuhkan Modal Investasi dalam jumlah besar, Pinjaman yang paling mudah adalah pinjaman dari Keluarga, teman karena biasanya syaratnya mudah dan kadang tidak berbunga. Pinjaman kepada lembaga keuangan Koperasi, BPR, Bank  memakai syarat-syarat. walaupun anda mengajukan atas nama Perusahaan, Lembaga Keuangan berdasarkan Peraturan Perbankan tetap akan menilai kepada perorangan, dengan melihat Karakter, Kapasitas, Colateral, Capital, condition. Pengajuan pinjaman kepada lembaga keuangan yang menerapkan sistem syariah tidak memberikan Bunga tapi Imbal Hasil, nanti diartikel lain Sistem Syariah kita bahas.


Tulisan ini sangat sederhana, ringkas, dengan tujuan memberikan gambaran umum bagi para pelaku usaha pemula. semoga menambah kekayaan informasi sehingga dalam mengambil keputusan usaha bisa lebih efektif,bijak, dan sesuai kondisi yang paling menguntungkan.

Rabu, 02 April 2014

Bapak Prof. Yohanes Surya,Ph.D mencari Investor Luar Negeri

PusatInvestor.Com
Bpk.Prof.Yohanes Surya,P.Hd (Jas Abu-Abu) bersama Team
Pada sabtu tanggal 22 Maret 2013 team berkunjung ke kampus Surya di daerah bilangan summarecon serpong BSD City dalam rangka untuk mendapatkan informasi,data yang dibutuhkan oleh konsultan internal, data yang dibutuhkan antara lain model bisnis pendidikan yang dijalankan oleh Yayasan Surya Institute, sebuah lembaga pendidikan yang fokus dibidang Sosial, Kemanusiaan, dan Pendidikan, dan kini sedang mengelola perguruan tinggi STIKIP Surya dan Universitas Surya, serta akan mendirikan Kampus Pusat riset nasional.
Lembaga ini didirikan di Tangerang pada 18 Oktober 2006 oleh seorang Maestro, sosok yang oleh banyak kalangan sudah mengenalnya karena prestasi beliau mengantarkan anak-anak didiknya memenangkan banyak penghargaan emas di ajang bergengsi tingkat internasional, Olimpiade Fisika, sosok tersebut adalah Bapak Prof. Yohanes Surya, Ph.D, lelaki kelahiran Jakarta 6 November 1963.

Bapak Prof. Yohanes Surya,Ph.D adalah tokoh utama penggagas TOFI yang berhasil menjadikan Indonesia juara dunia di berbagai Olimpiade Sains bergengsi, sekarang sedang fokus membesarkan Surya University dengan tekadnya menjadikan Surya University menjadi Pusat keunggulan dalam memajukan ilmu pengetahuan mutakhir dan inovasi terdepan

yayasan Surya institute adalah klien kami,dan kini sedang dalam proses permohonan pendanaan Investor Luar Negeri, Investor yang bersedia untuk membiayai proyek Yayasan Surya Institue berasal dari Amerika Serikat dengan nilai lebih Rp.300 M.
Ayo ajukan permohonan Anda untuk mendapatkan Pendanaan oleh Investor Luar Negeri, silahkan klik Registrasi untuk daftar, mohon isi lengkap kolom yang tersedia di  Order Form (Contac us).

Selasa, 01 April 2014

Suku bunga kredit mikro masih mekar

PusatInvestor.Com
Suku bunga kredit mikro masih mekar
Oleh Adhitya Himawan - Selasa, 25 Maret 2014 | Kontan



JAKARTA. Kualitas penyaluran kredit mikro Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Danamon masih terjaga. Meskipun tingkat suku bunga dasar kredit (SBDK) mikro dua bank itu tinggi.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per Januari 2014, SBDK Mikro BRI mencapai 22%. Jauh lebih tinggi daripada kredit korporasi 10,5% dan ritel 11,75%.
Menurut Muhammad Ali, Sekretaris Perusahaan BRI, suku bunga kredit mikro tidak bisa dibandingkan dengan suku bunga kredit korporasi. Sebab, biaya operasional penyaluran kredit mikro jauh lebih besar.
Misalnya, penyaluran satu paket kredit korporasi senilai Rp 1 triliun hanya memerlukan 5 -10 karyawan. Sedangkan kredit mikro Rp 1 triliun yang merupakan 50.000 paket kredit dengan nilai rata-rata Rp 20 juta, perlu ribuan karyawan. Belum lagi ratusan unit kerja dengan infrastruktur yang harus terpasang  dengan tingkat supervisi dan audit komprehensif. "Semuanya berkaitan langsung dengan biaya operasional yang  tinggi," kata Ali, kepada KONTAN, belum lama ini.
Mengantisipasi melonjaknya kredit bermasalah (NPL) kredit mikro, BRI tetap hati-hati menyalurkan kredit. "Sampai 10 tahun terakhir BRI mampu menjaga NPL kredit mikro  p di bawah 2%. Bahkan per Januari 2014, NPL kredit mikro masih terjaga di situ, di bawah 2%," terang Ali.
Berbeda dengan BRI, Bank Danamon berupaya menekan bunga kredit mikro. Berdasarkan SBDK BI per Januari 2014, SBDK mikro Danamon mencapai 20,53%. "Kami mencoba efisiensi, kerja maksimal sehingga dapat menjangkau nasabah lebih banyak. Apalagi tingkat persaingan perbankan di kredit mikro sekarang sangat ketat, sehingga nasabah mempunyai pilihan lebih banyak," kata Minhari Handikusuma, Direktur Mikro Bank Danamon, Minggu, (23/3).
Dia mengakui, biaya operasional kredit mikro relatif lebih tinggi ketimbang kredit korporasi, sehingga bunganya pasti lebih tinggi. Danamon menargetkan, pertumbuhan kredit mikro Danamon Simpan Pinjam (DSP) 15% tahun ini. Caranya, memperkuat sales forces, memperbaiki proses kredit dan pendekatan layanan yang lebih baik.

Editor: Barratut Taqiyyah

Bank mematok target konservatif penyaluran kredit

PusatInvestor.Com
PROSPEK KREDIT PERBANKAN
Bank mematok target konservatif penyaluran kredit
Oleh Sanny Cicilia, Nina Dwiantika, Dea Chadiza Syafina, Issa Almawadi, Adhitya Himawan -
Selasa, 25 Maret 2014 Kontan

JAKARTA. Banyak bank tahun ini mendeklarasikan diri akan mengerem pemberian kredit. Berhati-hati, begitu alasan bank, mengantisipasi pelambatan makro ekonomi dan dampak pemilihan umum (pemilu).

Mari cek beberapa proyeksi pertumbuhan kredit tahun ini. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) misalnya memproyeksikan pertumbuhan kredit 15%-17% tahun ini. Padahal tahun lalu, kredit bank yang jago mengucurkan kredit mikro ini tumbuh 23,7% menjadi Rp 430,62 triliun.

Begitu juga PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang mematok pertumbuhan kredit 13%-15% saja tahun ini dari posisi tahun lalu Rp 312,3 triliun. Tahun lalu, kredit BCA melaju 21,6%. "Jika kondisi ekonomi bagus, pemilu lancar dan baik, kami harap kredit bisa tumbuh 18%," ungkap Jahja.

PT Bank Mayapada Internasional Tbk yang laju kreditnya hebring di tahun lalu, juga tak segan-segan memangkas proyeksi pertumbuhan sampai setengahnya. Manajemen mematok pertumbuhan 20%, meski tahun lalu kreditnya melaju sampai 45% menjadi Rp 17,7 triliun. "Tahun ini kami turunkan menjadi 20% sesuai dengan arahan dari Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," ujar Haryono Tjahjariyadi, Direktur Utama Bank Mayapada.

BI sebagai bank sentral menargetkan pertumbuhan kredit industri perbankan pada 2014 berkisar antara 15%-17%. Sementara OJK menargetkan pertumbuhan kredit dikisaran 15%-16,9%. Lembaga rating ICRA Indonesia yang memperkirakan laju kredit perbankan paling tinggi yaitu 17%-19%.


Alasan bank tak agresif

Ini beberapa alasan yang membuat bank tak mau mengebut pemberian kredit tahun ini. Pengetatan likuiditas yang sudah terasa sejak akhir tahun lalu, menjadi alasan bank menahan laju kredit. Ketika sumber dana seret, bank akan menahan laju pemberian kredit.

Jadi, sebelum bisa memacu kredit, bank memutar otak menggaet dana simpanan masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK). Perbankan jor-joran memberikan bunga simpanan tinggi, menawarkan undian berhadiah sampai meringankan penalti jika mencairkan deposito sebelum jatuh tempo, agar nasabah betah menyimpan duit di bank.

Tren kenaikan suku bunga juga masih menghantui. Ketika ekonomi malmbat dipadu dengan bunga tinggi, berisiko mengerek kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL). Jika bank memaksa memacu kredit sementara likuiditas ketat, bisa memicu overheating ekonomi.

Memang, setelah rupiah menunjukkan penguatan di bulan Maret ini, ada peluang Bank Indonesia (BI) menurunkan bunga. Namun, faktor yang mendukung BI mempertahankan bunga di level 7,5% atau bahkan menaikkan bunga, sama beratnya.

Menurut Lana Soelistianingsih, Ekonom Universitas Indonesia, BI kemungkinan mempertahankan bunga di level 7,5% sampai kuartal ketiga nanti. Apalagi, penguatan rupiah masih terlalu dini disebut sebagai tren.

Agenda politik Indonesia baru berlangsung kuartal II nanti. Ditambah, terdapat agenda puasa dan hari raya Lebaran pada Juli yang bisa memicu inflasi dan berpeluang mendorong BI rate naik.

"BI rate bisa naik setelah itu atau kuatral IV-2014, sebagai antisipasi kenaikan tingkat suku bunga yang akan dinaikkan oleh The Federal Reserve (bank sentral Amerika Serikat) pada 2015 mendatang. Asal tidak ada gangguan lain-lain seperti kenaikan bahan bakar minyak tahun ini," jelas Lana.

Alhasil, perbankan tahun ini tak agresif membuat guidance. Kebanyakan mematok pertumbuhan kredit lebih kecil ketimbang tahun lalu. Padahal, tahun lalu saja, laju kredit bank memang sudah melambat.

Pelambatan kredit bank sudah terlihat tahun lalu. Lihat saja, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai kredit yang dikucurkan perbankan sepanjang tahun 2013 sebesar 21,6% menjadi Rp 3.292,87 triliun. Ini merupakan laju kredit paling lambat sejak 2012, 2011, dan 2010 yang tercatat sebesar 22,96%, 24,64% dan 22,82%.

Eh, tapi bukan berarti tak ada peluang BI rate melandai dan meredam tren kenaikan bunga bank. "Bulan depan, dengan asumsi rupiah menguat mendekati Rp 11.000, maka BI dapat mulai menurunkan BI rate," kata Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Anthonius Tony Prasetiantono. Penurunan akan bertahap dilakukan 25 basis poin (bps), sehingga bulan Mei nanti BI rate sudah bisa nongkrong di level 7%.


Bunga deposito naik, bunga kredit bisa naik juga

Ketika nilai kredit yang dikucurkan melambat ketimbang tahun lalu, perbankan masih bisa meningkatkan keuntungan dengan cara menaikkan margin bunga atau net interest margin (NIM). Ini adalah keuntungan bank, hasil dari selisih bunga kredit dan simpanan.

Namun, kenaikan bunga kredit harus mengimbangi kenaikan bunga simpanan. Soalnya, tren kenaikan bunga simpanan masih berlanjut. Lihat saja, Rata-rata suku bunga simpanan deposito 1 bulan sebesar 5,59% di akhir 2012. Sedangkan di akhir 2013 bunga simpanan yang sama naik menjadi 7,72%. Bunga naik lagi ke 7,77% di bulan Januari lalu.

Prediksi BI, perbankan akan mengerek bunga kredit, imbas dari kenaikan bunga simpanan yang terjadi di tahun lalu. Perry Warjiyo, Deputi Gubernur BI, mengatakan tren kenaikan bunga simpanan bakal berimbas terhadap kenaikan bunga kredit. "Kenaikan bunga kredit terjadi enam hingga 12 bulan mendatang," kata Perry.

Namun proyeksi BI, kenaikan bunga kredit tidak akan sebesar kenaikan bunga simpanan. Di sepanjang tahun 2013, BI rate telah naik 175 bps. Sementara perbankan menaikkan bunga simpanan 200 bps-300 bps. Pada periode sama, bunga kredit naik 41 bps.

Namun OJK sebelumnya sudah meminta bank agar tidak terlalu tinggi menaikkan bunga kredit. Nelson Tampubolon, Kepala Eksekutif Pengawas perbankan OJK pernah mengatakan, bank bisa sedikit mengorbankan margin bunga agar kualitas kredit tetap sehat. "Sekarang margin masih cukup tinggi, di atas 5%. Kalau itu sedikit diturunkan, mungkin belum terlalu mengganggu bank," jelas Nelson.

Lantaran tak bisa menaikkan bunga tinggi sementara perbankan sedang menawarkan bunga menarik untuk deposan, biaya dana atau cost of fund bank menanjak. Ujungnya, NIM bank bisa merosot.

Direktur Keuangan Bank Danamon Indonesia, Vera Eve Lim, memperkirakan NIM tahun ini sebesar 9% atau lebih rendah dibandingkan tahun 2013 yang sebesar 9,1%.

Bank OCBC NISP juga menaksir penurunan NIM sekitar 0,1% menjadi 4% pada 2014. Penurunan NIM OCBC sudah terasa sejak akhir 2013, yakni sebesar 4,1%. Pada Desember 2012, OCBC mencetak NIM sebesar 4,2%. "Kami akan mengelola likuiditas dengan baik sehingga biaya dana tidak naik tinggi," ungkap Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur Bank OCBC NISP

Manajemen BRI juga melihat NIM akan sedikit tertekan pada tahun ini. Hal itu dipicu oleh kenaikan biaya dana, sementara BRI selektif mengerek bunga kredit. "Kami hati-hati menaikkan bunga kredit agar tidak terjadi kredit bermasalah. NIM mungkin bisa lebih rendah 10 bps-25 bps," tutur Achmad Baiquni, Direktur Keuangan BRI. Pada 2013, BRI mencetak NIM 8,55%, naik dari posisi 2012 sebesar 8,42%


Mendorong pertumbuhan laba

Penurunan kredit dan margin, akan berimbas pada laba. Tahun lalu, pertumbuhan laba sudah terlihat melambat, ketika tercatat naik 15% sementara di akhir 2012 berhasil naik 22,66%. Tapi perbankan punya berbagai cara untuk meningkatkan laba.

Tahun ini, BRI mengincar pertumbuhan laba 10%-12% menjadi Rp 23,47 triliun-Rp 23,90 triliun, dengan memilih kredit pemberi imbal hasil tinggi. "Kami tetap pilih kredit usaha mikro kecil menengah (UMKM), khususnya mikro," kata Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni.

Bank Mandiri juga memasang target pertumbuhan laba konservatif, yakni 5%-10% di tahun ini. "Tapi nanti semester kedua akan kembali baik, terutama jika biaya dana turun, tingkat bunga baik," tandas Pahala Nugraha Mansury, Direktur Keuangan Bank Mandiri.

Untuk menahan penurunan pendapatan bunga, bank akan menggenjot pendapatan berbasis komisi. Bank Bukopin misalnya, menargetkan fee based income tumbuh 20% untuk mengantisipasi melandainya pendapatan dari sisi bunga.

Ujungnya, Bank Bukopin memproyeksikan, laba bersih pada tahun ini tumbuh antara 15%-20% menjadi Rp 1,07 triliun hingga Rp 1,12 triliun. Target Bank Bukopin lebih besar ketimbang realisasi pertumbuhan laba tahun lalu yang sebesar 11,97%.

Aksi menggenjot pendapatan non-bunga sudah terlihat sejak tahun lalu. Porsi fee based income CIMB Niaga tahun lalu terhadap total pendapatan naik menjadi 25,17% dari sebelumnya 24,59%. Sementara, BTPN sukses mengantongi fee based income Rp 400 miliar atau tumbuh 42% dari sebelumnya Rp 283 miliar.

Rapor 10 bank kakap Indonesia
Bank     Laba Bersih (Rp triliun)                                        Kredit
                2013   2012 Δ%                    2013 2012 Δ%        Δ% (2012)
Mandiri      18,20   15,50 17,42            472,4 388,8 21,5         24,1
BRI              21,34   18,68 14,24            430,62 348,23 23,7         22,8
BCA      14,30 11,70 22,22            312,29 256,78 21,6          27
BNI               9,05   7,05 28,37            250,64 200,7 24,88 22,8
CIMB Niaga 4,28    4,23 1,18            156,98 145,40 8         16
Permata        1,73   1,37   26,28            118,8 94         26         37,39
Danamon        4,04   4,01  0,75            135 116,4 15,97 14
BII                1,29    1,05  22,86            102 80,9         26         20
BTN        1,56    1,36  14,71            100,45 81,41 23,4         28,1
OCBC NISP 1,14     0,92  23,91             64 52,89 21         28
Sumber: Laporan keuangan bank

Editor: Sanny Cicilia


www.pusatinvestor.com